JURNALISME WARGA

Testimoni Bergabuung Relawan LaporCovid-19

Oleh Firdaus Ferdiansyah

Menarik Sekali!!

Kiranya itulah kata pertama ketika bergabung dengan laporcovid19.org -yang bahkan sampai hari ini aku masih kerap kali bergumam pada diri sendiri soal kondisi di dalamnya. Entah itu iklim kerjanya, atau bahkan soal data-data yang menjadi makanan sehari hari para relawan penggerak laporcovid.org. Saya tertarik ikut laporcovid19.org ketika daerah saya yaitu Kota Tegal menjadi salah satu kota yang dinyatakan aman dengan nol kasus yang justru membuat saya ragu. Pada saat itu, saya kerap kali membaca narasi adanya perbedaan data atau keanehan data pada data yang dimiliki Gugus Tugas COVID-19 dari BNPB. Meskipun demikian, tentu saya sangat senang dan bersyukur kalau memang tidak ada lagi kasus baru di Kota Tegal.

Saya memulai bergerak pada tanggal 19 Mei 2020-kira kira begitu terlihat dari jejak input data daerah dengan 3 kota/kabupaten yang diberikan oleh Koordinator Relawan Mba Cici. 2 dari Provinsi Kepulauan Riau yaitu Kabupaten Karimun dan Kabupaten Bintan dan Kota Metro di Provinsi Lampung. Pada tanggal 31 Mei 2020, saya ketambahan 4 daerah dari Provinsi Sumatera Utara yang menjadi pantauan saya untuk melakukan input data yaitu Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Toba Samosir sehingga total ada 7 daerah yang menjadi pantauan saya tiap harinya.

Kira kira baru berjalan 2 hari di laporcovid19.org , saya baru menyadari ada sesuatu yang ga beres soal data COVID-19 di daerah tersebut. Melihat perkembangan di WAG pun saya pikir tidak hanya saya saja yang mengalaminya. Hampir semua relawan penggerak memiliki temuan dan problematikanya masing masing.

Kali ini saya ingin menceritakan apa yang menjadi kesadaran saya dalam menemukan beberapa persoalan data tentang COVID-19 terkhususnya data ODP, PDP, dan kasus positif di daerah.

Yang pertama adalah tidak adanya mekanisme khusus dalam pelaporan data COVID-19 secara nasional sehingga masing masing daerah memiliki perbedaan persepsi dalam melaporkan data tentang COVID-19 ke publik melalui website atau official account mereka masing masing. Ini tidak mengherankan apabila kita memiliki perbedaan tampilan pada website masing masing, dan yang menarik ketika terjadi perbedaan data antara pemerintah kota/kabupaten dengan pemerintah provinsi. Perbedaan seperti ini pun dapat dilihat dari berbagai daerah, dan terjadi tidak hanya satu dua kali.

Yang kedua tidak semua pemerintah daerah melalui website-nya masing masing melakukan update di tiap harinya. Ini tentu menyulitkan saya yang berupaya melakukan update di tiap harinya. Mungkin terlihat sepele, namun bisa dibayangkan betapa kurang komprehensifnya pemerintah ketika melakukan kajian khususnya mengenai epidemiologi tanpa mengikutsertakan data secara lengkap.

Beberapa temuan lain seperti yang coba saya temukan pada daerah Tanah Bambu, Kalimantan Selatan dimana tanggal 19 Mei dilaporkan terdapat 209 ODP aktif, 2 PDP aktif, 47 Positif COV, 5 Sembuh. Laporan selanjutnya yaitu tanggal 21 Mei terdapat 97 ODP aktif, 1 PDP aktif, 100 positif COV, dan 5 sembuh. Ini menimbulkan anomali data dimana selisih ODP yaitu 106 tidak dapat diketahui kejelasannya mengingat selisih positif adalah 53 dan selisih PDP aktif hanya 1.

Atau temuan saya yang lain pada daerah Barito Kuala, Kalimantan Selatan; tanggal 14 Mei dilaporkan terdapat 17 ODP Aktif, 1 PDP aktif, 42 Positif COV. Laporan selanjutnya yaitu tanggal 15 Mei terdapat 12 ODP aktif, 1 PDP aktif, 50 positif COV. Ini menimbulkan anomali data dimana selisih ODP yaitu 5 terlalu sedikit dibandingkan dengan selisih data positif yaitu 8. 3 orang lainnya entah muncul dari mana (atau justru kasus yang belum terdeteksi)

Tanpa mengurangi rasa kemanusiaan, saya memang tidak bermaksud hanya menganggap pasien COVID-19 atau kematian itu hanya sebagai data statistik. Namun, jauh lebih dari itu data ini semestinya dapat dijadikan tolak ukur dalam pengembangan dan pengambilan kebijakan oleh pemerintah untuk menentukan langkah strategis selanjutnya berdasar kepercayaan terhadap sains. Penanganan pandemi COVID-19 berdasar kepercayaan terhadap sains tentu memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi seperti halnya yang diperlihatkan oleh pemerintah Taiwan yang memiliki Wakil Presiden yang juga seorang epidemiolog.